2026-04-20 HaiPress

JAKARTA, iDoPress - Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian meminta kepala daerah meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi potensi inflasi dan dampak krisis global yang bisa menekan ekonomi masyarakat, khususnya kelompok berpenghasilan rendah.
“Lebih dari 60 persen masyarakat kita itu peduli pada biaya hidup, terutama makanan. Ini tidak bisa ditunda,” tegasnya saat menjadi keynote speaker dalam Rapat Kerja Komisariat Wilayah (Komwil) I Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) di Kota Banda Aceh, Aceh, Senin (20/4/2026).
Tito menilai, inflasi saat ini bukan lagi sekadar isu makro, melainkan sudah menjadi persoalan konkret yang dirasakan langsung dalam kehidupan sehari-hari.
Kenaikan harga pangan, energi, dan logistik dinilai berpotensi memicu tekanan sosial jika tidak segera dikendalikan.
“Kalau sudah meledak, mahal biayanya. Bisa sampai kerusuhan, fasilitas publik rusak. Membangunnya lama, merusaknya sebentar,” ujarnya.
Di sisi lain, ia juga menyoroti dinamika global yang masih penuh tantangan, seperti konflik Rusia–Ukraina dan ketegangan di Timur Tengah.
Perkembangan tersebut, menurut Tito, turut memengaruhi harga energi global dan berdampak pada berbagai sektor di dalam negeri.
Ia menjelaskan, kenaikan harga minyak dapat memicu efek berantai terhadap biaya transportasi, distribusi, dan harga barang.
Oleh karena itu, peran aktif pemerintah daerah menjadi kunci dalam menjaga stabilitas harga di daerah.
“Jangan autopilot. Jangan tunggu sampai masalah meledak,” katanya.
Mendagri meminta Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus memperkuat kinerja, termasuk melalui koordinasi intensif dengan Badan Pusat Statistik (BPS) untuk memantau pergerakan harga secara real-time.
Ia menekankan bahwa pengendalian inflasi dapat difokuskan pada dua aspek utama, yaitu menjaga kecukupan pasokan dan kelancaran distribusi.
Sebagai contoh, ia menyinggung lonjakan harga cabai yang sempat terjadi di sejumlah wilayah Aceh.
Menurutnya, kondisi tersebut tidak hanya dipengaruhi faktor produksi, tetapi juga distribusi yang belum optimal.
Lebih lanjut, Mendagri menilai daerah yang memiliki basis produksi pangan yang kuat cenderung lebih tangguh dalam menghadapi tekanan ekonomi.
Sementara itu, wilayah perkotaan yang bergantung pada pasokan dari luar perlu memperkuat strategi ketahanan pangan.
Berkaca dari pengalaman pandemi Covid-19, ia menyampaikan bahwa penguatan ketahanan pangan lokal menjadi langkah strategis.
Berbagai inisiatif seperti urban farming, hidroponik, dan pemanfaatan lahan sempit di perkotaan dinilai dapat menjadi solusi adaptif sekaligus peluang pemberdayaan masyarakat.
iDoPress berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung iDoPress Plus sekarang
04-20
04-20
04-20
04-20
04-20
04-20