Hubungi kamiSiteMap
Rumah Berita Teknologi Suku cadang mobil Informasi bisnis Fashion wanita Acara olah raga Lebih

Beli di Apotek, Jual di Trotoar: Praktik "Abu-abu" Pedagang Obat Kaki Lima

2026-04-29 HaiPress

JAKARTA, iDoPress – Di sejumlah sudut ibu kota, praktik membeli obat dari jalur resmi lalu menjualnya kembali secara eceran di trotoar masih berlangsung hingga kini.

Di balik etalase sederhana pedagang kaki lima, tersimpan dinamika panjang tentang akses kesehatan, kebutuhan ekonomi, dan celah regulasi yang belum sepenuhnya terjawab.

Di sebuah sudut Jalan Kramat Kwitang, Rasid (63) duduk di balik etalase kecil berisi berbagai jenis obat.

Mulai dari obat flu, balsem, hingga pil pereda nyeri tersusun rapi dalam kemasan kecil. Aktivitasnya tampak tenang, menunggu pembeli yang kini tak sesering dulu.

“Obatnya saya ambil dari berbagai tempat, ada dari apotek, ada dari toko grosir, kadang juga dari pemasok yang datang ke sini,” ujar Rasid saat berbincang dengan iDoPress di lapaknya, Jumat (24/4/2026).

Ia menjelaskan, pengadaan barang tidak selalu melalui satu jalur. Pedagang seperti dirinya mengombinasikan berbagai sumber untuk menjaga ketersediaan stok.

Sebagian obat dibeli dalam kemasan besar, lalu dijual kembali secara eceran. Hal ini menjadi daya tarik bagi pembeli yang tidak ingin membeli dalam jumlah banyak.

“Ada juga yang nanya, bisa beli satuan enggak? Ya saya jual sesuai kebutuhan mereka. Enggak semua orang mampu beli satu kotak,” kata dia.

Harga menjadi pertimbangan utama. Rasid mengaku mengambil keuntungan tipis agar tetap kompetitif.

“Keuntungan enggak besar, yang penting mutar. Yang penting ada pemasukan buat makan sehari-hari,” ujar Rasid.

Namun, kondisi tersebut tidak selalu stabil. Dalam seminggu, jumlah pembeli bisa dihitung dengan jari.

“Sekarang kadang seminggu cuma satu sampai empat orang saja yang datang,” kata dia.

Meski demikian, Rasid tetap bertahan. Baginya, pekerjaan ini bukan hanya soal penghasilan, tetapi juga satu-satunya keahlian yang ia miliki setelah puluhan tahun berjualan.

“Ini sumber hidup saya. Mau bagaimana lagi, ya dijalani saja,” ucap dia.

Rasid dan pedagang lain juga menyadari profesinya seharusnya memiliki izin yang jelas. Mereka berupaya membatasi jenis obat yang dijual.

“Iya kita sadar, kita juga enggak berani macam-macam. Karena obat yang dijual yang umum saja. Kalau ada yang nanya detail kita saranin ke dokter,” tutur dia.

iDoPress/LIDIA PRATAMA FEBRIAN Beragam kotak obat-obatan yang dipajang di etalase kaca milik pedagang obat kaki lima di Kramat Raya, Jakarta Pusat, Jumat (24/4/2026).Risiko Kesehatan di Balik Praktik Informal

Fenomena pedagang obat kaki lima bukan hal baru dalam konteks kesehatan masyarakat perkotaan.Epidemiolog dan ahli kesehatan masyarakat, dr. Dicky Budiman, menyebut praktik ini sebagai isu klasik yang berada di persimpangan antara akses, ekonomi informal, dan risiko kesehatan.“Ini bukan hanya terjadi di kota besar, tetapi juga di kota kecil. Selalu ada di antara keterbatasan akses layanan kesehatan dan kebutuhan masyarakat,” kata Dicky saat dihubungi.Menurut dia, penggunaan obat tanpa pengawasan tenaga medis berpotensi menimbulkan berbagai risiko, salah satunya kesalahan diagnosis.
Penafian: Artikel ini direproduksi dari media lain. Tujuan pencetakan ulang adalah untuk menyampaikan lebih banyak informasi. Ini tidak berarti bahwa situs web ini setuju dengan pandangannya dan bertanggung jawab atas keasliannya, dan tidak memikul tanggung jawab hukum apa pun. Semua sumber daya di situs ini dikumpulkan di Internet. Tujuan berbagi hanya untuk pembelajaran dan referensi semua orang. Jika ada pelanggaran hak cipta atau kekayaan intelektual, silakan tinggalkan pesan kepada kami.
©hak cipta2009-2020 Mingguan Bisnis Indonesia    Hubungi kamiSiteMap